Selasa, 03 September 2019

Bab Ibtida’, Washal, dan Waqaf [Penjelasan Lengkap]

Bab yang membahas tentang pengertian, pembagian, tanda-tanda, dan cara membaca Ibtida’, Washal, Waqaf lengkap dengan contohnya dalam al Qur’an.

A. Pengertian Ibtida’ Washal dan Waqaf

1. Ibtida’
Ibtida’ ( الإِبْتِدَاءُ ) mempunyai akar kata dari بَدَأَ yang artinya memulai.
Sedangkan menurut istilah ulama Qurra’ adalah memulai membaca al-Qur’an, baik memulai dari awal maupun meneruskan bacaan yang semula dihentikan.
Pada pengertian diatas, tampak bahwa Ibtida’ mempunyai dua versi.
Pertama, memulai membaca al-Qur’an untuk pertama kalinya. Misalnya seusai sholat, seseorang membaca surat al-Baqarah, ketika membaca lafad: اٰلٰمٓitulah yang dinamakan ibtida’, yakni memulai pertama kali membaca al-qur’an.
Kedua, memulai membaca al-Qur’an setelah berhenti yang semula sudah membaca al-Qur’an. Misalnya seseorang membaca surah Al-Fatihah ayat pertama dan kedua : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُلِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَlalu berhenti kemudian diteruskan dengan ayat ketiga, maka pada saat memulai membaca ayat ketiga itulah yang disebut ibtida’.

2. Washal
Washal ( الوَصْلُ ) mempunyai akar kata dari وَصَلَ yang artinya sambung menyambung.
Sedangkan menurut istilah ulama Qurra’ adalah menyambungkan dua ayat yang semestinya boleh berhenti. Karena nafas masih kuat dan ayat tersebut (yang dibaca) boleh disambung, maka pembaca mewashalkan kedua ayat itu.
Contoh : seseorang membaca QS. Al-Ikhlas ayat 1 dan 2, maka dibaca washal: قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدَ نِ الله الصَّمَدُwalaupun sebenarnya boleh dibaca :
1. قُلْ هُوَاللهُ اَحَدً
2. اللهُ الصَّمَدُ

3. Waqaf
Waqaf (الوَقْفُ ) mempunyai akar kata dari الكَفُّ yang artinya berhenti.
Sedangkan menurut istilah ulama Qurra’, sebagaimana yang diungkapkan oleh ahmad Muthahar Abdur Rahman Al-Muroqi adalah :

اَلْوَقْفُ هُوَقَطْعُ الصَّوْتِ عِنْدَ اٰخِرِ اْلكَلِمَةِ مِقْدَارَ زَمَنِ التَّنَفُّسِ اَمَّااَقْصَرُمِنْهُ فَالسَّكْتُ
“memutus suara di akhir kalimat (ketika membaca Al-Qur’an) selama masa bernafas, tetapi jika lebih pendek dari masa bernafas itu, maka disebut saktah”


Pada pengertian di atas, maka waqaf mempunyai 3 bagian yaitu :
1. Waqaf untuk berhenti selamanya. Misalnya orang membaca surah Al-Baqarah, setelah tamat ia meneruskan sholat, pada akhir bacaan surah al-Baqarah itulah yang disebut waqaf.
2. Waqaf yang bertujuan untuk mengambil nafas, karena nafas tidak kuat si pembaca menghentikan bacaannya pada kalimat tertentu dan setelah mengambil nafas, ia meneruskan lagi bacaanya.
3. Waqaf yang bertujuan untuk berhenti sebentar saja, sehingga tidak sempat bernafas walaupun hanya sejenak. Waqaf yang terakhir inilah yang disebut “saktah”, (lihat bacaan saktah).

B. Pembagian Waqaf
Menurut ulama Qurra’ cara menghentikan bacaan al-Qur’an dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu:
1. Waqaf Ikhtibari ( الوَقْفُ الإِخْتِبَارِى  )
2. Waqaf Intidhari ( الوَقْفُ الإِنْتِظَارِى  )
3. Waqaf Idhthirari ( الوَقْفُ الإِضْطِرَارِى )
4. Waqaf Ikhtiyari ( الوَقْفُ الإِخْتِيَارى  )

Keempat waqaf ini dapat dijelaskan secara rinci sebagai berikut :
1. Waqaf Ikhtibari (berhenti diuji)
Waqaf yang dilakukan untuk mencoba bagaimana sebenarnya berhenti saat membutuhkan berhenti. Atau seorang guru ingin memberitahukan muridnya cara berhenti yang benar pada lafad tertentu, yang sebenarnya lebih baik diteruskan, namun karena kondisi tertentu waqaf itu diperlukan.
Akibat dari Waqaf Ikhtibari ialah harus menampakkan huruf tertentu yang sebenarnya tidak tampak.
Contoh : pada pengucapan lafad : عَمَّاdisuruh berhenti, maka lafad itu harus diuraikan dengan عَنْ dan مَا atau ketika membaca surah al-Maidah :27 yaitu :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَىْ اٰدَمَ بِاْلحَقِّ
Bila setelah lafad اِبْنَىْ waqaf, maka waqaf itu disebut waqaf ikhtibaridengan menguraikan lafad tersebut sebagaimana mestinya, yaitu : إِبْنَيْنِdengan menampakkan huruf nun yang semula dibuang karena di sandarkan (diidhafahkan) dengan lafad didepannya.

2. Waqaf Intidhari (berhenti menunggu)
Waqaf yang dilakukan karena terdapat perbedaan riwayat ulama Qurra’ boleh tidaknya berhenti masih diperselisihkan. Karena itu, pembaca mengambil jalan tengah dengan menghentikan bacaanya pada lafad yang diperselisihkan berhenti, selanjutnya diulangi pembacaan ayat pada permulaannya. Dengan demikian, kedua pendapat yang diperselisihkan tersebut dilaksanakan. Contoh:

فَقَدِاسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ اْلوُثْقٰىقلَاانْفِصَامَ لَهَا
Setelah lafad اْلوُثْقٰى boleh berhenti intidhari, namun berhentinya itu diulangi lagi mulai lafad : فَقَد sampai pada لَهَا

3. Waqaf Idhtirari (berhenti terpaksa)
Waqaf yang dilakukan karena terpaksa. Seorang pembaca ketika membaca al-qur’an nafasnya habis, batuk, lupa dan sebagainya. Maka dalam kondisi ini, ia terpaksa menghentikan bacaannya, walaupun tempat pemberhentiannya tidak selayaknya berhenti.
Contoh:

فَوَيْلُ لِّلْمُصَلِّيْنَ اَّلذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ
Setelah lafad لِلْمُصَلِّيْنَ berhenti, padahal berhenti pada lafad itu tidak layak, karena tidak pada tempatnya. Maka jalan sattu-satunya adalah mengulangi bacaannya kembali mulai dari فَوَيْلٌsampai pada سَاهُوْنَ

4. Waqaf Ikhtiyari (berhenti yang dipilih)
Waqaf yang dilakukan oleh pembaca atas pilihannya sendiri, tidak karena sebab-sebab sebagaimana dalam waqaf lainnya. Tentunya pada waqaf ini seorang pembaca sudah mengerti kedudukan waqaf, apakah boleh berhenti atau tidak. Maka jika diperbolehkan berhenti, atau lebih baik berhenti, maka pembaca hendaknya menghentikan bacaannya, tetapi jika tidak boleh berhenti maka pembaca mewashalkannya. Contoh :

وَلَاتُلْقُوْابِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةٍ ؞وَاَحْسِنُوْا؞
(Tanda pada lafad diatas adalah sepasang titik tiga (؞__؞ ) atau disebut juga dengan Mu’anaqah ( المُعَانَقَةُ )

Setelah lafad وَاَحْسِنُوْا pembaca menghentikan bacaannya tetapi dalam waktu lain pembaca menghentikan pada lafad : التَّهْلُكَةٍ kedua-duanya diperbolehkan dan pembaca sudah mengerti ketentuan waqaf tersebut, sehingga ia berhenti karena pilihannya sendiri bukan karena sebab-sebab tertentu.

Pada waqaf ikhtiyari ini terbagi atas beberapa bagian. Pada umumnya ulama Qurra membaginya dengan 4 bagian, tetapi lebih lengkapnya penulis mengambil pendapat Syekh Sulaiman Jamzuri dalam kitab Fat-hul Aqfal fi Syarkhi Tuhfatul Athfal yang membaginya tas 8 bagian yaitu:
1. Waqaf Taam ( الوَقْفُ التَّامِ )
2. Waqaf Hasan ( الوَقْفُ الحَسَنُ )
3. Waqaf Kaafi ( الوَقْفُ الكَافِى )
4. Waqaf Shalih ( الوَقْفُ الصَالِحُ )
5. Waqaf Mafhum ( الوَقْفُ المَفْهُوْمِ )
6. Waqaf Jaiz ( الوَقْفُ الجَائِزُ )
7. Waqaf Bayan ( الوَقْفُ البَيَانُ )
8. Waqaf Qabih( الوقف القَابِحُ )

Kedelapan waqaf ikhtiyari tersebut akan dibahas satu persatu secara rinci sebagai berikut :

1. Waqaf Taam
Waqaf Taam menurut arti bahasa yaitu berhenti yang sempurna. Sedang menurut istilah adalah sebagaimana yang dukemukakan oleh syeikh Sulaiman Jamzuri sebagai berikut:

مَا تَمَّ بِهِ مَعْنَى الكَلَامِ وَلَيْسَ لِمَا بَعْدَهُ تَعَلُّقٌ بِمَا قَبْلَهُ
“Waqaf yang terjadi pada kalimat yang sudah sempurna maknanya dan kalimat itu tidak ada kaitannya dengan kalimat sesudahnya (didepannya)”.


Pada pengertian tersebut tampak bahwa waqaf Taam menghendaki adanya berhenti, karena yang sudah dibaca sudah menunjukkan akhir kalimat dan kalimat itu tidak berkaitan dengan kalimat di depannya. Karena itu waqaf Taam mungkin terjadi di akhir surat yang tidak mungkin disambung dengan kalimat lain, sehingga harus berhenti. Contoh :
QS. Al-Baqarah, ayat 286 : اَنْتَ مَوْلٰنَا فَانْصُرْنَا عَلَى اْلقَوْمِ اْلكَافِرِيْنَ

QS. Ali Imran, ayat 200 : وَاتَّقُوااللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Setelah membaca Alkafirin pada QS. Al-Baqarah dan Tuflihun Pada QS. Ali Imran berhenti, inilah tempat Waqaf Taam.

2. Waqaf Hasan
Waqaf hasan berarti berhenti yang baik. Sedangkan menurut istilah ulama Qurra’ adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Sulaiman Jazuri sebagai berikut:

مَا يَحْسُنُ الوَقْفُ عَلَيْهِ وَلَايَحْسُنُ الإِبْتِدَاءُ بِمَا بَعْدَهُ
“Waqaf yang sudah sebaiknya berhenti dilakukan, walaupun kalimat sesudahnya tidak pantas menjadi permulaan kalimat”.


Tidak ada salahnya seseorang melakukan waqaf hasan. Sebab ketika waqaf, lafad yang diungkapkan sudah sempurna maknanya, walaupun pada kalimat sesudahnya tidak pantas dijadikan permulaan bacaaan mengingat masih ada hubungan. Misalnya menjadi na’at (sifat), athaf, badal atau tauhid.

Contoh QS. Al-Baqarah, ayat 40:

اُذْكُرُوْانِعْمَتِىَ الَّتِى اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَوْفُوْا بِعَهْدِىْ اُوْفِ بِعَهْدِكُمْ


Setelah lafad عَلَيْكُم berhenti, inilah waqaf hasan karena berhentinya pada lafad yang sudah sempurna maknanya, tetapi masih terikat pada lafad: وَاَوْفُوْاsebab ia tidak pantas dijadikan permulaan bacaan.

Mengingat kedudukan waqaf hasan ini tidak sebaik waqaf taam, maka cara menjadikan waqaf taam pada waqaf ini adalah dengan mengulang bacaan yang diwaqafkan, jika waqafnya di tengah-tengah ayat.. Tetapi jika di akhir ayat maka tidak perlu diulangi.

3. Waqaf Kaafi
Waqaf kaafi berarti berhenti yang cukup. Sedangkan menurut istilah ulama Qurra adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh sulaiman jazuri sebagai berikut:

مَا يَكْفِى بِالْوَقْفِ عَلَيْهِ وَاْلاِبْتِدَاءُ بِمَا بَعْدَهُ
“Waqaf yang mencukupi pada lafad itu dan lafad sesudahnya pantas dijadikan permulaan bacaan”.


Walaupun tingkatannya tidak sebaik waqaf taam, tetapi waqaf kaafi ini amat baik dilakukan bahkan lebih baik daripada waqaf hasan, mengingat waqaf ini sudah berhenti pada waqaf yang seharusnya berhenti. Sedangkan kalimat sesudahnya layak dijadikan permulaan bacaan.

Contoh QS. Ali Imran ayat 190-191:

اِنَّ فِى خَلْقِ السَّمٰوٰاتِ وَاْلاَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِاُولِى اْلاَلْبَابِ . اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا (الاية

Setelah lafad  اُولِى اْلاَلْبَابِ berhenti, dan tidak diwashalkan pada lafad : اَلَّذِيْن . Inilah waqaf kaafi, sebab kalimat itu sudah sempurna dan setelah waqaf, lafad sesudahnya layak dijadikan permulaan bacaan. Tidak menutup kemungkinan adanya washal antara kedua lafad tersebut dan hal ini diperbolehkan, karena masih ada kaitan erat.

4. Waqaf Shalih
Waqaf shalih berarti berhenti yang patut. Sedangkan menurut istilah ulama’ Qurra’ adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh sulaiman jazuri sebagai berikut:

كُلُّ مَاصَلَحَ لِبَيَانِ مَابَعْدَهُ
“Waqaf yang patut dilakukan karena menjelaskan pada lafad sesudahnya”


Pada pengertian diatas, tampak bahwa waqaf shalih diperbolehkan karena dengan mewaqafkan pada lafad itu karena menjelaskan pada lafad sesudahnya. Contoh : QS. Al-Baqarah ayat 83:

وَاِذْاَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِى اِسْرَائِيْلَ لَاتَعْبُدُوْنَ اِلَّااللهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا


Setelah lafad اِلَّااللهَ berhenti, maka diperbolehkan karena patut. Namun lebih baik diwashalkan karena lafad itu masih menjelaskan pada lafad sesudahnya sehingga tidak disambung dengan lafad وَبِالْوَالِدَيْنِ yang kemudian menjadi waqaf taam.

5. Waqaf Mafhum
Waqaf Mafhum berarti waqaf yang dapat dipahami. Sedangkan menurut istilah ulama’ Qurra’ adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh sulaiman jazuri sebagai berikut:

مَاكَانَ بَعْدَهُ مُخْتَارَالْلاِبْتِدَاءِ
“Berhenti pada lafad yang setelah lafad itu dipilih untuk dijadikan permulaan bacaan.”


Dalam pengertian itu waqaf mafhum layak dilakukan, mengingat setelah waqaf itu lafad sesudahnya pantas dan dipilih untuk dijadikan permulaan bacaan contoh QS. Al-Baqarah ayat 162:

خَالِدِيْنَ فِيْهَا لَايُخَفَّفُ عَنْهُمُ اْلعَذَابُ وَلَاهُمْ يُنْظَرُوْنَ


Setelah lafad فِيْهَا berhenti, mengingat lafad لَايُخَفَّفُ sudah dipilih untuk dijadikan permulaan bacaan baru.

6. Waqaf Jaiz
Waqaf jaiz berarti berhenti yang boleh. Sedangkan menurut istilah ulama’ Qurra’ adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh sulaiman jamzuri sebagai berikut:

مَاخَرَجَ عَنْ ذَالِكَ وَكَانَ بَعْدَهُ جَائِزًا لَايُقْبَحُ
“Waqaf yang merupakan pengecualian dari kesemua bentuk waqa, mengingat lafad setelah itu boleh dijadikan permulaan dan tidak jelek”.


Pada pengertian diatas, tampak bahwa waqaf jaiz tidak ada tuntutan waqaf atau washal. Waqaf dan washal kedua-duanya tidak ada yang lebih baik, tetapi memiliki kedudukan yang sama. Sehingga boleh waqaf dan boleh washal, hanya saja untuk pembaca yang napasnya pendek, lebih baik diwaqafkan. Sedangkan yang mempunyai napas panjang dapat mewashalkan. Contoh QS. Ath-Thariq ayat 4-5:

اِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ. فَالْيَنْظُرِ اْلاِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ


Setelah lafad حَافِظٌ berhenti, dan itu diperbolehkan tidak lebih baik dan juga tidak lebih buruk. Dan lafad فَالْيَنْظُرِ juga tidak jelek dijadikan permulaan bacaan.

7. Waqaf Bayan
Waqaf bayan berarti berhenti yang jelas. Sedangkan menurut istilah ulama’ Qurra’ adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh sulaiman jazuri sebagai berikut:

مَا يُبَيِّنُ مَعْنًا لَايُفْهَمُ بِدُوْنِهِ
“Berhenti pada lafad yang lafad itu sebenarnya menjelaskan makna (pengertian) lafad sesudahnya, sehingga lafad didepannya itu tidak dapat dipahami tanpa lafad sebelum waqaf ini.”


Pengertian diatas menunjukkan bahwa waqaf ini selayaknya tidak baik. Karena jika berhenti berarti lafad yang akan dijadikan permulaan bacaan tidak dapat dipahami maksudnya secara pasti sehingga lebih baik diwashalkan saja bacaannya. Contoh QS. Al-Alaq ayat 1:

إِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ اَّلذِىْ خَلَقَ


Setelah bacaan إِقْرَأْ dihentikan, waqaf ini kurang layak. Sebab lafad tersebut belum ada penjelasannya yang konkret. Karena itu dijelaskan dengan lafad berikutnya yakni : بِاسْم sehingga menjadi washal karenanya.

8. Waqaf Qabih
Waqaf Qabih berarti Waqaf yang jelek. Sedangkan menurut istilah ulama’ Qurra’ adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh sulaiman jazuri sebagai berikut:

الوَقْفُ عَلَى لَفْظٍ غَيْرِ مُفِيْدٍ لِعَدَمِ تَمَامِ الكَلَامِ وَقَدْ تَعَلَّقَ مَا بَعْدَهُ بِمَا قَبْلَهُ لَفْظًا وَمَعْنًى
“Berhenti pada lafad yang belum sempurna maknanya, karena masih berhubungan lafad sesudah dan sebelumnya, baik lafad maupun maknanya”.


Waqaf jenis terakhir ini merupakan bentuk waqaf ikhtiyari yang tidak baik, bahkan jelek. Tidak boleh dilakukan mengingat kalimatnya belum sempurna. Baik ditinjau dari sudut struktur lafad maupun maknanya. Contoh QS. Al-Baqarah ayat 2:

ذَالِكَ اْلكِتَابُ لَارَيْبَ فِيْهِ


Setelah lafad اْلكِتَابُ dihentikan, dan tidak diwashalkan lagi pada lafad didepannya. Jenis waqaf ini tidak diperkenankan karena tanpa alasan dan tempat pemberhentian sama sekali tidak patut, maka waqaf ini berakibat buruk atau jelek.

Menurut Abdullah Umar Al-Baidhawi dalam bukunya Rishalatul Qurra’Wal HuffazdFi Gharaibul Qira’ah Wal Alfadzmenyatakan bahwa ada 17 tempat yang haram waqaf, sebab jika waqaf, maka menyalahi makna pokok al-Qur’an. Karena itu, jika pembaca terpaksa berhenti karena nafasnya terputus, batuk, bersin atau sebagainya, maka harus diulang mulai awal. Sehingga tidak terjerumus waqaf haram (qobih), adapun tempat yang diharamkan waqaf adalah sebagi berikut:
1. QS. Al-Baqarah: 17   فَلَمَّا اَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ

2. QS. Al-Baqarah: 243   فَقَالَ لَهُمُ اللهُ مُوْتُوْا

3. QS. Ali Imran: 181    اِنَّ اللهَ فَقِيْرٌ

4. QS. Al-Maidah: 31    فَبَعَثَ اللهُ غُرَابًا

5. QS. Al-Maidah: 64      وَقَالَتِ اْليَهُوْدُ يَدُ اللهِ

6. QS. Al-Maidah:73      اِنَّ اللهَ ثَالِثٌ

7. QS. Al-Maidah: 84    وَمَا لَنَا

8. QS. At-Taubah: 30     وَقَالَتِ اْليَهُوْدُ

9. QS. At-Taubah: 30     وَقَالَتِ النَّصَارٰى

10. QS. Yusuf: 8     لَفِى ضَلَالٍ مُبِيْنٍ

11. QS. Ibrahim: 22     وَمَا اَنْتُمْ بِمُصْرِخِىِّ

12. QS. Bani Israil: 111     لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ

13. QS. Al- Ahzab: 35     وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِيْنَ

14. QS. As-Shaffat: 153     اَصْطَفَى اْلبَنَاتْ

15. QS. Al-Ghasiyyah: 24      اِلَّامَنْ تَوَلَّى وَكَفَرْ

16. QS. Al-Ashr: 2        اِنَّ اْلاِنْسَانَ لَفِى خُسْرٍ اِلَّا

17. QS. Al-Maun: 4      فَوَيْلُ لِلْمُصَلِّيْنَ

Selanjutnya sebagian ulama Qurra’ lain menambahkan tempat-tempat yang haram waqaf yaitu:
1. Qs. Al-Baqarah: 255   الَّذِى كَفَرَ وَاللهُ

2. QS. Ali-Imran: 62     وَمَا مِنْ اِلٰهِ

3. QS. An-Nisa: 43      لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ

4. QS. An-Nahl: 38       لَايَبْعَث اللهُ

5. QS. An-Nahl: 60      مَثَلُ السُّوْءِوَلِلّهِ

6. QS. Dimana saja      اِنَّ اللهَ لَايَهْدِي

7. QS. Dimana saja      وَمَااَرْسَلْنَـاكَ

C. Cara membunyikan Bacaan Waqaf
Ketika pembaca berhenti pada suatu lafad, maka wajib baginya memilih salah satu dari beberapa cara menyembunyikan bacaan waqaf. Ulama Qurra’ merumuskan beberapa cara menyembunyikan bacaan waqaf yaitu:

1. Menghilangkan tanda bacaan tanwin diganti dengan tanda baca aslinya. Misalnya fathatain diganti dengan fathah. Sedangkan dhammatain diganti dhammah, dan kasratain diganti dengan kasrah tidak dijumpai.
Contoh:

NoTertulisDibaca 1 حَرَامًا وَحَلَالًا حَرَامًا وَحَلَالَ 2 فِى مَنَامِكَ قَلِيْلًا فِى مَنَامِكَ قَلِيْلَ 3 رِزْقًا حَسَنًا رِزْقًا حَسَناَ 4 اَلْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّا اَلْمُؤْمِنُوْنَ حَقَّا 5 اَخَاهُمْ شُعَيْبًا اَخَاهُمْ شُعَيْبَا 6تَبْغُوْنَهَا عِوَجًا تَبْغُوْنَهَا عِوَجَا

Cara demikian itu banyak berkaitan dengan Mad Iwadh.

2. Mematikan (memberi tanda baca sukun) satu huruf terakhir pada lafad yang diwaqafkan. Cara ini terjadi jika mempunyai syarat sebagai berikut :
a. Huruf terakhir pada lafad yang diwaqafkan telah mati, sehingga tidak perlu mengubah tanda bacanya. Contoh:

NoTertulisDibaca1بَغْيًا بَيْنَهُمْبَغْيًا بَيْنَهُمْ2مِنْ قَبْلِهِمْمِنْ قَبْلِهِمْ3فَقَدِاهْتَدَوْافَقَدِاهْتَدَوْا4مَااكْتَسَبَتْمَااكْتَسَبَتْ

b. Huruf terakhir pada lafad yang diwaqafkan bertanda baca tanwin dhammatain, fathatain, dan kasratain, semuanya diganti dengan sukun (mati). Contoh:

NoTertulisDibaca1عَذَابَهُ اَحَدٌعَذَابَهُ اَحَدْ2صُحُفًا مُطَهَّرَةًصُحُفًا مُطَهَّرَةْ3رَبُّكَ بِعَادٍرَبُّكَ بِعَادْ4مِنْ مَسَدٍمِنْ مَسَدْ

c. Huruf terakhir pada lafad yang diwaqafkan bertanda baca fathah, dhommah maupun kasrah. Contoh:

NoTertulisDibaca1فَلَهٗ مَاسَلَفَفَلَهٗ مَاسَلَفْ2مِنْ مَقَامِكَمِنْ مَقَامِكْ3بِكَافٍ عَبْدَهُبِكَافٍ عَبْدَهْ4وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُوَالشَّمْسُ وَالْقَمَرْ5وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِوَقِهِمُ السَّيِّئَاتْ6مِنَ الطَّيِّبَاتِمِنَ الطَّيِّبَاتْ

3. Mengganti huruf dengan huruf pada lafad yang diwaqafkan. Contoh:

NoTertulisDibaca1قَبْلَ الْحَسَنَةِقَبْلَ الْحَسَنَةِ2يَوْمَ الْقِيَـامَةِيَوْمَ الْقِيَـامَةِ3تَقُوْمُ السَّـاعَةُتَقُوْمُ السَّـاعَةُ4وَلَا السَّيِّئَةُوَلَا السَّيِّئَةُ

4. Mematikan dua huruf terakhir pada lafad yang diwaqafkan. Hal itu terjadi jika huruf akhir hidup, sedangkan huruf sebelum akhir mati. Contoh:

NoTertulisDibaca1لِىْ بِهٖ عِلْمٌ لِىْ بِهٖ عِلْمْ2يَقْضِىْ بِالْحَقِّ يَقْضِىْ بِالْحَقْ3وَالْاِنْسِ وَالْاِنْسْ4رُدُّوْ هَاعَلَىَّ رُدُّوْ هَاعَلَىَّ

5. Dengan mematikan dua huruf pada lafad yang diwaqafkan, yang jatuh setelah bacaan Mad (panjang).
Cara membacanya sama dengan cara membaca yang nomor 4, hanya saja bacaan waqaf ini dipanjangkan sekitar 1 alif, 2 alif atau 3 alif. Karena dengan mewaqafkan itu menjadi bacaan mad ‘Aridhlis Sukun atau Mad Lien. Contoh:

NoTertulisDibaca1لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَلَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ2تَعْلَمُوْنَ عَلِيْمٌتَعْلَمُوْنَ عَلِيْمْ3وَاٰمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍوَاٰمَنَهُمْ مِنْ خَوْفْ4خَوَّانٍ كَفُوْرٍخَوَّانٍ كَفُوْرْ

6. Memindah harakat hidup huruf terakhir pada huruf mati sebelum akhir. Cara membacanya sebagaimana yang diterangkan dalam bagian Naql. Contoh:

NoTertulisDibaca1فِى الْاَرْضِفِى الْاَرْضْ2بِالْقِسْطِبِالْقِسْطْ

7. Tetap dibaca sebagaimana adanya. Hal ini terjadi, mengingat lafadz itu tidak perlu dibuang harakatnya, sebab jika dibuang maka sulit diungkapkan. Contoh:

NoTertulisDibaca1وَالضُّحٰىوَالضُّحٰى2وَضُحٰهَاوَضُحٰهَا3فِىْ عِبَادِىْفِىْ عِبَادِىْ4بُعْثِرَتْبُعْثِرَتْ

Dari beberapa cara membaca waqaf tersebut, maka tidak menutup kemungkinan adanya satu lafad dalam bahasa arab dibaca dengan 3 cara menyembunyikan. Misalnya membaca takbir ketika hari raya.

 اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ


Lafad boleh dibaca dengan 3 cara, yaitu:
a. Dibaca naql sehingga harakat dhammah dal dipindah pada harakat sukun mim اَلْحَمُدْ
b. Huruf dal dimatikan, sehingga waqaf ini mematikan dua huruf terakhir اَلْحَمْدْ
c. Dibaca sebagaimana adanya اَلْحَمْدُ

D. Tanda-tanda waqaf dan maksudnya
Setelah kita mengetahui bagian-bagian waqaf, baik itu waqaf yang baik ataupun yang buruk, maka yang perlu diketahui selanjutnya adalah tanda-tanda waqaf yang berlaku dalam Mushaf Usmani serta yang digunakan di negara Indonesia. Karena dengan memperhatikan tanda waqaf itu berarti dapat mengetahui kedudukan dan derajat kebolehan melakukannya, sekaligus menghindarkan diri dari waqaf yang haram.

Tanda waqaf yang berlaku dibagi dua macam, yaitu tanda yang mengisyaratkan lebih baik terus (washal) dan tanda yang mengisyaratkan berhenti (waqaf). Untuk lebih jelasnya dapat diikuti uraian berikut ini:

1. Tanda yang lebih baik berhenti
a. Tanda mim (م) artinya waqaf lazim (اَللَّازِمْ)
Yaitu tanda yang mengisyaratkan lebih baik berhenti, bahkan sebagaian ulama’ mewajibkanya, mengingat waqaf pada tanda itu sudah pantas dijadikan tempat pemberhentian, sedang lafad didepannya layak dijadikan sebagai permulaan bacaan. Contoh:

وَاِنَّ مِنْ شِيْعَتِهِ لَاِبْرَاهِيْمَ ۢاِذَاجَٓاءَرَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ (الصفات :83-84)
اَنَّهُمْ اَصْحَابُ النَّارِۢالَّذِيْنَ يَحْمِلُوْنَ اْلعَرْشَ (المؤمنون :6-7)

b. Tanda Tha ( ط ) artinya waqaf Muthlaq (المُطْلَقْ)
Yaitu tanda yang mengisyaratkan kebolehan waqaf juga washal, hanya saja waqaf lebih utama terlebih lagi jika pembaca napasnya pendek. Contoh:

وَلَايُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَاؕكَذٰالِكَ نَجْزِى كُلَّ كَفُوْرٍ (فاطر :36)
وَلَاتَبْغِ اْلفَسَادَ فِى اْلاَرْضِؕ اِنَّ اللهَ لَايُحِبُّ اْلمُفْسِدِيْنَ (القصص:77)

c. Tanda Jim (ج) artinya waqaf Jaiz (الجَائِزِ)
Yaitu tanda yang mengisyaratkan kebolehan waqaf maupun washal hanya saja lebih baik waqaf daripada washal, mengingat kedudukan waqaf jaiz di bawah waqaf lazim dan waqaf muthlak. ontoh:

فَهَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّاالسَّاعَةَ اَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۚفَقَدْجَاءَاَشْرَاطُهَا ۚ

ذٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ شَآءَاتَّخَذَاِلٰی رَبِّهِ مَأٰ بًا

d. Tanda Qaf dan Fa’ (قف ) artinya waqaf sighat fiil amar (ْصِغَةْ فِعِلْ اَمَر) yaitu kebolehan mewaqafkan lafad, hanya saja tidak ada salahnya mewashalkannya walaupun mewaqafkan itu lebih baik. Tanda tersebut ada yang menyebutkan dengan tanda Waqaf Mustahab (المُسْتَحَبُّ). Contoh:

وَلَوْشَآءَ اللهُ مَااقْتَتَلُوْاقف وَلٰكِنَّ اللهَ يَفْعَلُ مَايُرِيْدُ. (البقرة: ٢٥٣ 
الٓمٓقف تِلْكَ اٰيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيْمِ (لقمان: ٢-١

e. Tanda Qaf, Lam dan alif (قلى) artinya waqaf aula (الوَقْفُ اَوْلٰى) , yaitu kebolehan washal, hanya saja berhenti lebih baik daripada washal. Contoh:

عَلٰى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ ۗ تَنْزِيْلُ الْعَزِيْزِ الْرَّحِيْمِ (يس:  ٤– ٥
وَوَصّٰى بِهَا اِبْرَاهِيْمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُ ۗيٰبَنِيَّ اِنَّ اللهَ اصْطَفٰى لَكُمُ الدِّيْنَ (البقرة :۱۳۲

2. Tanda yang lebih baik diteruskan
a. Tanda Za’ ( ز ) artinya Waqaf Mujawwaz ( المُجَوَّزُ )
Yaitu tanda waqaf yang boleh diteruskan dan boleh dihentikan, hanya saja diteruskan kebih baik daripada dihentikan, karena tanda mujawwaz kebalikan dari tanda jaiz. Contoh:

اَمْ لِلْاِنْسَانِ مَاتَمَنَّى ز فَلِلّهِ اْلاٰخِرَةِ وَاْلاُوْلٰى (النجم :۲٤-۲٥
فَتَوَلَّ عَنْهُمْ فَمَا اَنْتَ بِمَلُوْمٍ زوَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ اْلمُؤْمِنِيْنَ

b. Tanda Shad ( ص ) artinya waqaf Murakhash ( الْمُرَخَّصُ )
Yaitu tanda yang mengisyaratkan adanya kemurahan berhenti, walaupun diwashalkan itu lebih baik. Kemurahan itu dikarenakan ayat yang dibaca terlalu panjang atau dalam keadaan terpaksa. Contoh:

وَابْتَغُوْا مَاكَتَبَ اللهُ لَكُمْ صوَكُلُوْاوَاشْرَبُوْا (البقرة: ۱۸۷ 
وَأْتُوااْلبُيُوْتَ مِنْ اَبْوَابِهَا ص وَاتَّقُواللهَ لَعلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ (البقرة: ۱۸۹

c. Tanda Qaf ( ق ) artinya Waqaf Qila Waqaf ( قِيْلَ اْلوَقْفُ )
Yaitu tanda waqaf yang mengisyaratkan artinya perselisihan pendapat, apakah pada lafad itu boleh berhenti atau tidak. Dalam hal ini lebih baik dipilih pendapat yang mewashalkan, karena pendapat ini lebih baik. Sebagian ulama menyebutkan dengan tanda ‘Inda Qouli (عِنْدَ اْلقَوْلِ). Contoh:

اَنْ لَٓااِلٰهَ اِلَّااَنْتَ سُبْحَانَكَ ق اِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ (الانبياء: ۸۷
وَاَّلذِيْنَ اَشْرَكُوْا ق اِنَّ اللهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ (الحج: ۱۷

d. Tanda Shad, Lam dan Alif ( صلى ) artinya Washal Aula ( الوَصْلُ الاَوْلٰى )
Yaitu tanda yang mengisyaratkan adanya washal itu lebih baik daripada waqaf. Contoh:

.وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ حَقٍ ۖ وَيَقْتُلُوْنَ اَّلذِيْنَ يَأْمُرُوْنَ بِاْلقِسْطِ مِنَ النَّاسِ
وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُوْسَى الغَضَبُ اَخَذَ اْلاَلْوَاحَ ۖ وَفِى نُسْخَتِهَا هُدًى… (الاعراف: ۱٥٤

e. Tanda Lam Alif ( لا ) artinya La Waqta Fihi (لَاوَقْفَ فِيْهِ )
Yaitu tanda yang mengisyaratkan tidak adanya waqaf pada lafad yang diberi tanda itu, sehingga lebih baik diteruskan bacaannya daripada berhenti. Contoh:

فَاِمَّاتَرَيِنَّ مِنَ اْلبَشَرِ اَحَدًا ۙ فَقُوْلِىْ اِنِّى نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا (مريم: ۲٦

اُشْدُدْ بِهِ اَزْرِىْ ۙ وَاَشْرِكْهُ فِى اَمْرِىْ ۙ كَىْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا ( طه: ٣١ – ٣٣ 

f. Tanda Kaf (ڪ ) artinya Kadzalika Muthobiqon Lima Qoblaha ( كَذٰلِكَ مُطَابِقًالِمَاقَبْلَهَا ) yaitu tanda yang mengisyaratkan adanya kesamaan antara tanda itu dengan tanda sebelumnya. Sehingga lafad yang pendahulu lebih baik waqaf, maka tanda ini mengisyaratkan waqaf, sebaliknya jika pendahulunya lebih baik washal, maka tanda ini mengisyaratkan washal. Contoh:

وَاِنْ تَفْعَلُوْا فَاِنَّهُ فُسُوْقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوْااللهَ ڪ وَيُعَلِّمُكُمُ اللهُ ڪ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ (البقرة: ۲٨٢
وَاْلعٰدِيٰتِ ضَبْحًا ۙ فَاْلمُوْرِيٰتِ قَدْحًا ڪفَاْلمُغِيْرَاتِ صُبْحًا ڪ (العٰدِيٰتِ: ١ – ٣

g. Tanda sepasang titik tiga (؞___؞ ) artinya tanda Mu’anaqah ( المُعَانَقَةُ ) yaitu tanda yang mengisyaratkan agar pembaca menghentikan bacaannya pada salah satu dari dua pasang titik itu. Contoh:

وَلَاتُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ؞وَاَحْسِنُوْا؞

Boleh berhenti setelah: التَّهْلُكَةِ boleh juga setelah: وَاَحْسِنُوْا tetapi tidak boleh pada kedua-duanya.

ذٰلِكَ اْلكِتَاَبُ لَارَيْبَ؞ فِيْهِ؞ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ

Boleh berhenti setelah: رَيْبَ boleh juga setelah: فِيْهِ tetapi tidak boleh pada kedua-duanya.

Disamping tanda waqaf, ada juga tanda-tanda khusus dalam al-Qur’an yang perlu diperhatikan. Tanda yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Huruf ‘Ain ( ع ) yang terletak dipinggir garis, tanda ini disebut makra’ ( مَكْرُوْعٌ ) atau Ruku’ ( رُكُوْعٌ ). Tanda ini menganjurkan agar pembaca menghentikan bacaannya jika menghendaki tidak membaca al-Qur’an lagi, sebab adanya tanda Makra’ menunjukkan satu topik tertentu yang dibahas dalam al-Qur’an dan lebih baik lagi jika dilakukan oleh penghafal al-Qur’an. Contoh:

رَبِّكَ فَحَدِّثْ  ع (الضحى:  ١١
وَمَا اَدْرٰىكَ مَاهِيَةُ. نَارٌحَامِيَةٌ ع(القارعة:  ١٠ – ١١)

2. Tanda ( السَّجْدَةُ ) pada pinggir ayat menunjukkan adanya bacaan yang menganjurkan untuk melakukan sujud tilawah setelah ayat sajdah diucapkan. Untuk mengetahui dimana saja tempat dianjurkannya melakukan sujud tilawah, bacaan sujud tilawal, dan cara melakukannya, berikut ini penjelasannya:

Ayat-Ayat Sajdah
Ayat sajdah adalah ayat yang didalamnya terdapat perintah sujud dari Allah Swt. maka apabila kita membaca atau mendengar ayat sajdah, baik didalam shalat atau di luar shalat maka di sunahkan untuk bersujud terlebih dahulu.

Ayat sajdah ada 15
1. Surah Al A’raf ayat 206 : ۩ وَلَهٗ يَسْجُدُوْنَ 
2. Surah Ar Ra’d ayat 15 : ۩ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ
3. Surah An Nahl ayat 50 : ۩ وَيَفْعَلُوْنَ مَايُؤْمَرُوْنَ
4. Surah Al Isra ayat 109 : ۩ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا
5. Surah Maryam ayat 58 : ۩ خَرُّوْاسُجّدًاوَبُكِيـًّا
6. Surah Al Hajj ayat 18 : ۩ اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآٔءُ
7. Surah Al Hajj ayat 77 : ۩ وَافْعَلُواالْخَيْرَلَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
8. Surah Al Furqan ayat 60 : ۩ وَزَادَهُمْ نُفُوْرًا
9. Surah An Naml ayat 26 : ۩ لَآاِلٰهَ اِلَّاهُوَۙرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
10. Surah As Sajdah ayat 15: ۩ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَايَسْتَكْبِرُوْنَ
11. Surah Shad ayat 24 : ۩ وَخَرَّرَاكِعًاوَّاَنَابَ
12. Surah Fussilat ayat 38 : ۩ وَهُمْ لَايَسْىَٔمُوْنَ
13. Surah An Najm ayat 62 : ۩ فَاسْجُدُوْالِلّٰهِ وَاعْبُدُوْا
14. Surah Al Insyiqaq ayat 21 : ۩ وَاِذَاقُرِىَٔ عَلَيْهِمُ الْقُرْاٰنُ لَايَسْجُدُوْنَ
15. Surah Al ‘Alaq ayat 19 : ۩ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

Bacaan sujud tilawah adalah sebagai berikut:

سَجَدَوَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهٗ وَصَوَّرَهٗ وَشَقَّ سَمْعَهٗ وَبَصَرَهٗ بِحَوْلِهٖ وَقُوَّتِهٖ فَتَبـَـارَكَ اللّٰهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ

Sajada wajhiya lilladzii khalaqahuu washawwarahuu wasyaqqaa sam’ahuu wabasharahuu bihaulihii waquwwatihii fatabaarakallahu ahsanul khaliqiin


“Wajahku telah bersujud kepada yang telah menciptakannya, memisahkan (memfungsikan) pendengaran dan penglihatannya dengan kemampuan dan kekuatan-Nya. Mahasuci Allah sebaik-baik Pencipta.”

Cara melakukannya ada 2 macam
1. Ketika didalam shalat: apabila sampai pada ayat sajdah, lalu turun dari berdiri untuk bersujud tilawah. Kemudian berdiri kembali untuk melanjutkan bacaan surah atau menyempurnakan shalat.
2. Ketika diluar shalat: apabila sampai pada ayat sajdah, lalu niat bersujud tilawah dan bertakbir (seperti takbiratul ihram) dengan mengangkat kedua tangan, dilanjutkan bersujud dengan membaca takbir. Jika telah selesai membaca bacaannya, kemudian bangkit dari sujud untuk duduk disertai takbir lalu salam.

E. Ibtida’
ibtida’ yaitu memulai bacaan atau melanjutkan bacaan kembali setelah waqaf dengan mengulang kalimat sebelum waqaf tersebut dengan tepat dan benar.
—– ## ——

c. Washlul Isti’adzah bil Basmalah ( وَصْلُ الْاِسْتِعَاذَةِ بِالْبَسْمَلَةِ  )
Yaitu menyambung bacaan Isti’adzah dan Basmalah, sedangkan antara Basmalah dengan surah diputus.
Contoh:

اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۞ قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ

d. Washlul Jami’ ( وَصْلُ الْجَمِيْعِ )
Yaitu menyambung kesemuanya antara Isti’adzah, Basmalah, dan surah.
Contoh:

اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

2. Cara membaca Basmalah antara dua surah
a. Qoth’u Kulli ( قَطْعُ الْـــكُلِّ )
Yaitu memutus kesemuanya. Artinya antara surah, Basmalah, dan surah yang lain dibaca sendiri-sendiri. Cara ini merupakan cara terbaik. Contoh:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ۞ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۞ قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ

b. Washlul Basmalah fi Awwalis Surah ( وَصْلُ الْبَسْمَلَةِ فِى اَوَّلِ السُّوْرَةِ )
Yaitu menyambung Basmalah dengan permulaan surah sehingga antara akhir surah dengan Basmalah diputus, dan antara Basmalah dengan awal surah disambung. Cara ini diperbolehkan walaupun tidak sebaik yang pertama. Contoh:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ۞ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ

c. Washlul Kulli ( وَصْلُ الْـــكُلِّ )
Yaitu menyambung kesemuanya antara akhir surah, Basmalah, dan awal surah. Cara ini juga boleh walaupun tidak sebaik cara pertama. Contoh:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ

d. Washlul Akhiris Surah bil Basmalah ( وَصْلُ اخِرِ السُّوْرَةِ بِالْبَسْمَلَةِ )
Yaitu menyambung antara akhir surah dengan Basmalah tetapi memutus Basmalah dengan awal surah. Cara ini tidak diperbolehkan karena dikhawatirkan adanya pemahaman bahwa Basmalah itu bagian akhir dari suatu surah. Contoh:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۞ قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Adapun Ibtida’ dalam arti memulai setelah berhenti (waqaf), maka yang perlu diperhatikan oleh pembaca adalah mengetahui ayat-ayat tertentu yang tidak diperbolehkan digunakan sebagai permulaan bacaan, mengingat hal tersebut erat kaitannya dengan berhenti yang diharamkan. Jika berhenti pada ayat-ayat tertentu yang diharamkan, berarti diharamkan pula memulai ayat sesudahnya.

Sedangkan ayat-ayat yang tidak boleh digunakan sebagai Ibtida’ adalah sebagai berikut:

1. اَللهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ 
2. اِتَّخَذَ اللهُ وَلَدًا
3. اللهُ مُوتُوا۟
4. ٌاِنَّ اللهَ فَقِيْر
5. ُاِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيْح
6. نَحْنُ اَبْنَاءُ اللهِ
7. اللهُ غَرَابًا
8. ٌيَدُاللهِ مَفْلُوْلَة
9. اِنَّ اللهَ ثَالِثُ
10. لاَنُؤْمِنُ بِاللهِ
11. عُزَيْرٌ اِبْنُ اللهِ
12. اَلْمَسِيْحُ ابْنُ اللهِ
13. اَللهُ بَشَرًا
14. لَهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ
15. اِنِّى اِلٰهٌ من دونِهٖ
16. اَللهُ كَثِيْرًا
17. لاَاَعْبُدُالَّذِى فَطَرَنِى
18. وَلَدَاللهِ
19. َاَعْبُدُمَا تَعْبُدُوْن

Alhamdulillah, selesai sudah pembahasan tentang Ibtida’, Washal, dan Waqaf ini. Mudah-mudahan Allah memberikan kita kemudahan dalam mempelajari dan mengamalkan apa yang sudah dibahas di atas, mulai dari mengawali bacaan Al Qur’an, menyambung antar ayat atau kalimat, pembagian waqaf, rumus dan cara pemilihan waktu berhenti, ayat sajdah dan cara melakukan sujud tilawah, dan lain-lain.

Wallahu a’lam bis showab



Selasa, 27 Agustus 2019

Hukum Memakai Niqob (Cadar)

 عليكم ورحمة الله وبركاته...

Persoalan memakai cadar (niqab) bagi perempuan sebenarnya adalah masalah yang masih diperselisihkan oleh para pakar hukum Islam. Karena keterbatasan ruang dan waktu kami tidak akan menjelaskan secara detail mengenai perbedaan tersebut.
Kami hanya akan menyuguhkan secara global sebagaimana yang didokumentasikan dalam kitab Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah.

Menurut madzhab Hanafi, di zaman sekarang perempuan yang masih muda (al-mar`ah asy-syabbah) dilarang membuka wajahnya di antara laki-laki.
Bukan karena wajah itu termasuk aurat, tetapi lebih untuk menghindari fitnah.

فَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ ( الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ ) إِلَى أَنَّ الْوَجْهَ لَيْسَ بِعَوْرَةٍ ، وَإِذَا لَمْ يَكُنْ عَوْرَةً فَإِنَّهُ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَسْتُرَهُ فَتَنْتَقِبَ ، وَلَهَا أَنْ تَكْشِفَهُ فَلاَ تَنْتَقِبَ .قَال الْحَنَفِيَّةُ : تُمْنَعُ الْمَرْأَةُ الشَّابَّةُ مِنْ كَشْفِ وَجْهِهَا بَيْنَ الرِّجَال فِي زَمَانِنَا ، لاَ لِأَنَّهُ عَوْرَةٌ ، بَل لِخَوْفِ الْفِتْنَةِ

Artinya, “Mayoritas fuqaha (baik dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat.
Jika demikian, wanita boleh menutupinya dengan cadar dan boleh membukanya. Menurut madzhab Hanafi, di zaman kita sekarang wanita muda (al-mar`ah asy-syabbah) dilarang memperlihatkan wajah di antara laki-laki. Bukan karena wajah itu sendiri adalah aurat tetapi lebih karena untuk mengindari fitnah,” (Lihat Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, juz XLI, halaman 134).

Berbeda dengan madzhab Hanafi, madzhab Maliki menyatakan bahwa makruh hukumnya wanita menutupi wajah baik ketika dalam shalat maupun di luar shalat karena termasuk perbuatan berlebih-lebihan (al-ghuluw).

Namun di satu sisi mereka berpendapat bahwa menutupi dua telapak tangan dan wajah bagi wanita muda yang dikhawatirkan menimbulkan fitnah, ketika ia adalah wanita yang cantik atau dalam situasi banyak munculnya kebejatan atau kerusakan moral.

وَقَال الْمَالِكِيَّةُ : يُكْرَهُ انْتِقَابُ الْمَرْأَةِ - أَيْ : تَغْطِيَةُ وَجْهِهَا ،وَهُوَ مَا يَصِل لِلْعُيُونِ - سَوَاءٌ كَانَتْ فِي صَلاَةٍ أَوْ فِي غَيْرِهَا ، كَانَ الاِنْتِقَابُ فِيهَا لِأجْلِهَا أَوْ لاَ ، لِأَنَّهُ مِنَ الْغُلُوِّ.وَيُكْرَهُ النِّقَابُ لِلرِّجَال مِنْ بَابِ أَوْلَى إِلاَّ إِذَا كَانَ ذَلِكَ مِنْ عَادَةِ قَوْمِهِ ، فَلاَ يُكْرَهُ إِذَا كَانَ فِي غَيْرِ صَلاَةٍ ، وَأَمَّا فِي الصَّلاَةِ فَيُكْرَهُ .وَقَالُوا : يَجِبُ عَلَى الشَّابَّةِ مَخْشِيَّةِ الْفِتْنَةِ سَتْرٌ حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ إِذَا كَانَتْ جَمِيلَةً ، أَوْ يَكْثُرُ الْفَسَادُ.

Artinya, “Madzhab Maliki berpendapat bahwa dimakruhkan wanita memakai cadar—artinya menutupi wajahnya sampai mata—baik dalam shalat maupun di luar shalat atau karena melakukan shalat atau tidak karena hal itu termasuk berlebihan (ghuluw). Dan lebih utama cadar dimakruhkan bagi laki-laki kecuali ketika hal itu merupakan kebiasaan yang berlaku di masyarakatnya, maka tidak dimakruhkan ketika di luar shalat. Adapun dalam shalat maka dimakruhkan.
Mereka menyatakan bahwa wajib menutupi kedua telapak tangan dan wajah bagi perempuan muda yang dikhawatirkan bisa menimbulkan fitnah, apabila ia adalah wanita yang cantik, atau maraknya kebejatan moral,” (Lihat Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, juz, XLI, halaman 134).

Sedangkan di kalangan madzhab Syafi’i sendiri terjadi silang pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa memakai cadar bagi wanita adalah wajib. Pendapat kedua adalah sunah, sedang pendapat ketiga adalah khilaful awla, menyalahi yang utama karena utamanya tidak bercadar.

وَاخْتَلَفَ الشَّافِعِيَّةُ فِي تَنَقُّبِ الْمَرْأَةِ ، فَرَأْيٌ يُوجِبُ النِّقَابَ عَلَيْهَا ، وَقِيل : هُوَ سُنَّةٌ ، وَقِيل : هُوَ خِلاَفُ الأَوْلَى

Artinya, “Madzhab Syafi’i berbeda pendapat mengenai hukum memakai cadar bagi perempuan. Satu pendapat menyatakan bahwa hukum mengenakan cadar bagi perempuan adalah wajib.
Pendapat lain (qila) menyatakan hukumnya adalah sunah. Dan ada juga yang menyatakan khilaful awla,” (Lihat Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, juz, XLI, halaman 134).

Poin penting yang ingin kami katakan dalam tulisan ini adalah bahwa persoalan hukum memakai cadar bagi wanita ternyata merupakan persoalan khilafiyah. Bahkan dalam madzhab Syafi’i sendiri yang dianut mayoritas orang NU terjadi perbedaan dalam menyikapinya.

Meskipun harus diakui bahwa pendapat yang mu’tamad dalam dalam madzhab Syafi’i adalah bahwa aurat perempuan dalam konteks yang berkaitan dengan pandangan pihak lain (al-ajanib) adalah semua badannya termasuk kedua telapak tangan dan wajah. Konsekuensinya adalah ia wajib menutupi kedua telapak tangan dan memakai cadar untuk menutupi wajahnya.

أَنَّ لَهَا ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ عَوْرَةٌ فِي الصَّلَاِة وَهُوَ مَا تَقَدَّمَ، وَعَوْرَةٌ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْاَجَانِبِ إِلَيْهَا جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ

“Bahwa perempuan memiliki tiga uarat. Pertama, aurat dalam shalat dan hal ini telah dijelaskan. Kedua aurat yang terkait dengan pandangan orang lain kepadanya, yaitu seluruh badannya termasuk wajah dan kedua telapak tangannya menurut pendapat yang mu’tamad...” (Lihat Abdul Hamid asy-Syarwani, Hasyiyah asy-Syarwani, Bairut-Dar al-Fikr, juz, II, h. 112)

Namun menurut hemat kami, pendapat yang menyatakan wajib memakai cadar bagi wanita jika dipaksakan di Indonesia akan mengalami banyak kendala. Toh faktanya masalah cadar adalah masalah yang diperselisihkan oleh para fuqaha`.
Dan NU sendiri bukan hanya mengakui madzhab Syafi’i tetapi juga mengakui ketiga madzhab fikih yang lain, yaitu Hanafi, Maliki, dan Hambali.

Jadi yang diperlukan adalah kearifan dalam melihat perbedaan pandangan tentang cadar.
Menurut hemat kami, perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dipertentangkan dan dibenturkan. Tetapi harus dibaca sesuai konteksnya masing-masing.

Wallohu A'lam...

#auliamotivation_dakwah
#MAHA1706

~M Aulia Hafidz Al-Majied~ (MAHA)

Sabtu, 24 Agustus 2019

Bacaan Tawasul (Hadhorot) Yang Benar dan Lengkap Arab (Lengkap)

Bacaan Tawasul (Hadhorot) Yang Benar & Lengkap Arab (Lengkap)


أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ = ×3


أَشْهَدُ اَنْ لآاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ


عَلَى هَذِهِ النِّيَّةِ وَعَلَى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ إلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى  مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَعَلَى ءَالِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِيَّتِهِ وَاَهْلِ بَيْتِهِ اْلكِرَامْ أجْمَعِيْن شَيْئٌ ِللهِ لَهُمْ ألفاتحة


ثُمَّ إلَى حَضْرَةِ جَمِيْعِ أصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ خُصُوْصًا سَيِّدِنَا أبُوْ بَكْرٍ صِدِيْقْ وَ عُمَرَابْنِ الْخَطَابْ وَعُثْمَانْ اِبْنِ عَفَانْ وَعَلِيِّ ابْنِ أبِي طَالِبْ وَعَلَى بَاقِيَةٍ مِنْ صَحَا بَتِهِ اَجْمَعِيْن وَإلَى جَمِيْعِ اْلأنْبِيآءِ وَالْمُـرْسَلِـْينَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْن  وَالْعُلَمآءِ الْعَامِلِـيْن وَالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْن وَالْكَرُوْبِيِّيْن وَالرُّوْحاَنِيِّينْ وَالْكَرَمَ الْكَاتِبِيْن وَلِسَيِّدِنَا مَلٰئِكَةِ جِبْرِيْل مِيْكَائِلْ اِسْرَافِيْلْ عِزْرَائِلْ وَحَمَلَةِ الْعَرْشِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ أَجْمَعِيْنَ الفاتحة


ثُمَّ إلَى حَضْرَةِ جَمِيْعِ أوْلِيَآءِاللهِ مِنْ كُلِّ وَلِيٍّ وَوَلِيَّةٍ مِنْ مَشَارِقِ اْلأرْضِ إلَى مَغَارِبِهَا فِيْ بَرِّهَا وَبَحْرِهَا وَجَمِيْعِ أوْلِيَآءِ تِسْعَةِ قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُمْ وَخُصُوْصًا اِلَى حَضْرَةِ سُلْطَانِ أَوْلِيَآءِاللهِ سَيِّدِنَا شَيْخِ عَبْدُالْقَادِرْ الْجَيْلاَنِيْ صَاحِبِ الْكَـَرمَةِ وَاْلإجَازَةِ قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ  وَإلَى حَضْرَةِ شَيْخِ جُنَيْدِيْ الْبَغْدَادِيِّ وَشَيْخِ بَهَاءُ الدِّيْنْ اَلنَّقْشَبَنْدِيِّ وَ إِلَى حَضْرَةِ نَبِى خِضِـرْ وَنَبِيْ إِلْيَاسْ وَنَبِيْ إدْرِسْ عَلَيْهِـمُ السَّلامُ أَجْمَعِيْنَ. الفاتحة


ثُمَّ إلَى أرْوَاحِ جَمِيْعِ أبَآءِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَجَدِّنَا وَجدَّتِنَا  وَخَالِنَا وَخَالَتِنَا وَعَمِّنَا وَعَمَّتِنَا وَجَمِيْعِ أُسْتَذِنَا وَ أُسْتَاذَاتِنَا وَمَشَايِخِنَا وَمَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَلِجَمِيْعِ جَمَاعَتِنَا وَلِجَمِيْعِ زَوْجِنَا وَزَوْجَتِنَا وَاَوْلاَدِنَا وَبَنَاتِنَا وَذُرِيَّتِنَا وَإخْوَانِنَـا مِنَ الْمُسـْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمـَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلِمَنْ حَضَرَ فِيْ هَذَا الْمَجْلِسِ رَحْمَةُ الله تَعَالَى عَلَيْنَا وَعَلَيْهِمْ أجْمَعِيْنَ شَيْئ لِلَّهِ لَنَا وَلَهُمْ. الفاتحة


ثُمَّ إلَى أرْوَاحِ جَمِيْعِ أهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَخُصُوْصًا إلَى رُوْحِ:….. بن/بنت.. اللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ وَاكْرِمْ نُزُوْلَهُمْ وَوَسِعْ مَدْخَلَهُمْ وَتَقَبَّلْ حَسَنَاتِهِمْ  وَكَفِّرْ سَيِّئَاتِهِمْ   وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَأْوَىهُم  الفاتحـة 


تَقَبَّلَ اللهُ مِنْكُمْ مِنَّا وَمِنْكُمْ تَقَبَّلْ يَا كَرِيْم  أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ يس


 

Baca Juga :  √ Doa Masuk Masjid & Doa Keluar Masjid Beserta Adabnya (Lengkap)

Dari sini terus membaca Surah Yasiin secara berjama’ah seperti biasa umumnya di masyarakat muslim As-Sayfi’iyah, bacaan surah Yasiin dibaca sampai selesai, atu boleh juga tidak baca surah Yasiin langsung saja membaca:

لآاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ * قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ * اللهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ  *  ٣كالي

لآاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ * قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ * مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ * وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَب * وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ * وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

لآاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ * قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ *مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ * الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ * مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ*    الفاتحة   

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ * إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ * اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَـيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّالِّينَ

بـسـم اللهِ الرّحمن الرّحيم الم * ذلِكَ الْكِتَابُ لاَرَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّـلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ * وَالَّذِينَ يُؤْمِنُون بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآٰخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ * أُولـٰئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَاِلـٰهُكُمْ اِلَهٌ وَاحِدٌلاَّۤاِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْـمُ اللهُ لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ  لَهُ مَــا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُۤ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ. أَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ . ٣كالي

أَفْضَلُ الذِّكْـرِ لَۤااِلَهَ إِلاَّاللهُ  حيٌّ باقٍ

لاَ إلَهَ إلاَّاللهُ حَيُّ مَّوْجُوْدٌ

لَۤااِلَهَ إِلاَّاللهُ حَيُّ مَّعْبُوْدٌ

لَۤااِلَهَ إِلاَّاللهُ، لَۤااِلَهَ إِلاَّاللهُ  40كالي

لاَ إلَهَ إلاَّاللهُ مُحَمَّدُ رَّسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. يَا ذَاالْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ اْلأوَّلِيْن وَاْلأَخِـرِيْنَ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. آمين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ يَامَّعْبُوْدُ حَمْدًا يُوَفِى نِعْمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَـرِيْمِ وَعَـظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلاهْوَالِ  وَاْلأفَاتِ  وَتَقْضِى لَنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْحَاجَاتِ  وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّأَتِ وَتَرْفَعُنـَا بِهـَاعِنْدَك اَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا اَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاتِ وَبَعْدَ الْمَمَـاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ *  اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَسلَّمَ  وَعَلَى اَلِهِ واَزْوَاجِهِ وَذُرِيَّتِهِ وَاَهْلِ بَيْتِهِ

اَللَّهمَّ اَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرَئْنَاهُ وَمَا هَلَلْنَاهُ  هَادِيَةً لِأَرْوَاحِ جَمِيْعِ أبَآءِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَجَدِّنَا وَجدَّتِنَا  وَخَالِنَا وَخَالَتِنَا وَعَمِّنَا وَعَمَّتِنَا وَجَمِيْعِ أُسْتَذِنَا  وَأَسْتَاذَاتِنَا  وَمَشَايِخِنَا وَمَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَلِجَمِيْعِ جَمَاعَتِنَا وَلِجَمِيْعِ زَوْجِنَا وَزَوْجَتِنَا وَاَوْلادِنَا وَبَنَاتِنَا وَذُرِيَّتِنَا وَإخْــوَانِنَا مِنَ الْمُـسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَـاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَـاتِ  وَلِمَنْ حَضَـرَ فِيْ هَذَا الْمَجْلِسِ رَحْمَةُ اللهِ تَعَالَى عَلَيْنَا وَعَلَيْهِـْم أجْمَعِيْنَ ثُمَّ هَادِيَةً إلَى أرْوَاحِ جَمِيْعِ أهْـلِ الْقُبُوْرِ مِنْ أَهْلِنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَـاتِ   وَخُصُوْصًا  إلَى رُوْحِ: …….بن / بنت…………. اللَّهُـمَّ اغْفِـرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ وَاكْرِمْ نُزُلَهُمْ وَوَسِعْ مَدْخَلَهُمْ وَتَقَبَّلْ حَسَنَاتِهِمْ وَكَفِّرْ سَيِّأَتِهِمْ بِرَحْمَتِكِ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ أللَّهُمَّ اجْعَلْ قُبُوْرَهُمْ وَ قُبُوْرَهُنَّ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ وَلاَ تَجْعَلْ قُبُوْرَهُمْ   وَقُبُوْرَهُنَّ حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِّرَانِ* اَللَّهُـمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهُم وَلاَ تَفْتِنَا بَعْدَهُمْ وَاغْفِرْلَنَا وَلَهُمْ وَلإخْـوَانِنَـا الَّذِيْنَ سَبَـقُوْنَ بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِـلاً لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْارَبَّنــَا إنَّكَ رَؤُفٌ رَّحِيْمٌ رَبَّنَا هَب ْلَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِيَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنِ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ  اِمَامًا .* رَبَّنَا ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِي الأخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلآمٌ عَلَى الْمُـرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبّ العالمين * الفاتحة

Teks dan Arti Doa Tawassul

Tawassul adalah memohon kepada Allah swt melalui perantara orang-orang yang dicintai-Nya, seperti para Nabi dan Wali. Dikarenakan mereka adalah orang-orang yang telah diridhoi dan telah diberi derajat yang tinggi di sisi Allah swt.

 

Berikut ini teks doa tawassul dalam bahasa arabnya:

اَللَّهُمَّ إِنِّي اسْالُكَ وَاتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ نَبِيِّ ٱلرَّحْمَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّىٰ ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ يَا ابَا ٱلْقَاسِمِ يَا رَسُولَ ٱللَّهِ يَا إِمَامَ ٱلرَّحْمَةِ يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتَشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهاً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعْ لَنَا عِنْدَ ٱللَّهِ يَا ابَا ٱلْحَسَنِ يَا امِيرَ ٱلْمُؤْمِنِينَ يَا عَلِيُّ بْنَ ابِي طَالِبٍ يَا حُجَّةَ ٱللَّهِ عَلَىٰ خَلْقِهِ يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتَشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَىٰ اللّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهاً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعْ لَنَا عِنْدَ ٱللَّهِ يَا فَاطِمَةُ ٱلزَّهْرَاءُ يَا بِنْتَ مُحَمَّدٍ يَا قُرَّةَ عَيْنِ ٱلرَّسُولِ يَا سَيِّدَتَنَاوَمَوْلاَتَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتَشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكِ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَقَدَّمْنَاكِ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهَةً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعي لَنَا عِنْدَ ٱللَّهِ يَا ابَا مُحَمَّدٍ يَا حَسَنُ بْنَ عَلِيٍّ ايُّهَا ٱلْمجْتَبَىٰ يَا بْنَ رَسُولِ ٱللَّهِ يَا حُجَّةَ ٱللَّهِ عَلَىٰ خَلْقِهِ يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتَشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهاً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعْ لَنَا عِنْدَ ٱللَّهِ يَا ابَا عَبْدِ ٱللَّهِ يَا حُسَيْنُ بْنَ عَلِيٍّ ايُّهَا ٱلشَّهِيدُ يَا بْنَ رَسُولِ ٱللَّهِ يَا حُجَّةَ ٱللَّهِ عَلَىٰ خَلْقِهِ يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتَشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهاً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعْ لَنَا عِنْدَ ٱللَّهِ يَا ابَا ٱلْحَسَنِ يَا عَلِيُّ بْنَ ٱلْحُسَيْنِ يَا زَيْنَ ٱلْعَابِدينَ يَا بْنَ رَسُولِ ٱللَّهِ يَا حُجَّةَ ٱللَّهِ عَلَىٰ خَلْقِهِ يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتَشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهاً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعْ لَنَا عِنْدَ ٱللَّه يَا ابَا جَعْفَرٍ يَا مُحَمَّدُ بْنَ عَلِيٍّ ايُّهَا ٱلْبَاقِرُ يَا بْنَ رَسُولِ ٱللَّهِ يَا حُجَّةَ ٱللَّهِ عَلَىٰ خَلْقِهِ يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتَشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهاً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعْ لَنَا عِنْدَ ٱللَّهِ يَا ابَا عَبْدِ ٱللَّهِ يَا جَعْفَرُ بْنَ مُحَمَّدٍ ايُّهَا ٱلصَّادِقُ يَا بْنَ رَسُولِ ٱللَّهِ يَا حُجَّةَ ٱللَّهِ عَلَىٰ خَلْقِهِ يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتَشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهاً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعْ لَنَا عِنْدَ ٱللَّهِ يَا ابَا ٱلْحَسَنِ يَا مُوسَىٰ بْنَ جَعْفَرٍ ايُّهَا ٱلْكَاظِمُ يَا بْنَ رَسُولِ ٱللَّهِ يَا حُجَّةَ ٱللَّهِ عَلَىٰ خَلْقِهِ يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتَشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهاً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعْ لَنَا عِنْدَ ٱللَّهِ يَا ابَا ٱلْحَسَنِ يَا عَلِيُّ بْنَ مُوسَىٰ ايُّهَا ٱلرِّضَا يَا بْنَ رَسُولِ ٱللَّهِ يَا حُجَّةَ ٱللَّهِ عَلَىٰ خَلْقِهِ يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهاً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعْ لَنَا عِنْدَ ٱللَّهِ يَا ابَا جَعْفَرٍ يَا مُحَمَّدُ بْنَ عَلِيٍّ ايُّهَا ٱلتَّقِيُّ ٱلْجَوَادُ يَا بْنَ رَسُولِ ٱللَّهِ يَا حُجَّةَ ٱللَّهِ عَلَىٰ خَلْقِهِ يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتَشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهاً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعْ لَنَا عِنْدَ ٱللَّهِ يَا ابَا ٱلْحَسَنِ يَا عَلِيُّ بْنَ مُحَمَّدٍ ايُّهَا ٱلْهَادِي ٱلنَّقِيُّ يَا بْنَ رَسُولِ ٱللَّهِ يَا حُجَّةَ ٱللَّهِ عَلَىٰ خَلْقِهِ يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتَشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهاً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعْ لَنَا عِنْدَ ٱللَّه يَا ابَا مُحَمَّدٍ يَا حَسَنُ بْنَ عَلِيٍّ ايُّهَا ٱلزَّكِيُّ ٱلْعَسْكَرِيُّ يَا بْنَ رَسُولِ ٱللَّهِ يَا حُجَّةَ ٱللَّهِ عَلَىٰ خَلْقِهِ يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهاً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعْ لَنَا عِنْدَ ٱللَّهِ ِيَا وَصِيَّ ٱلْحَسَنِ وَٱلْخَلَفُ ٱلْحُجَّةُ ايُّهَا ٱلْقَائِمُ ٱلْمُنْتَظَرُ ٱلْمَهْدِيُّ يَا بْنَ رَسُولِ ٱللَّهِ يَا حُجَّةَ ٱللَّهِ عَلَىٰ خَلْقِهِ يَا سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَٱسْتَشْفَعْنَا وَتَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا يَا وَجِيهاً عِنْدَ ٱللَّهِ إِشْفَعْ لَنَا عِنْدَ ٱللَّهِ يَا سَادَتِي وَمَوَالِيَّ إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكُمْ ائِمَّتِي وَعُدَّتِي لِيَوْمِ فَقْرِي وَحَاجَتِي إِلَىٰ ٱللَّهِ وَتَوَسَّلْتُ بِكُمْ إِلَىٰ ٱللَّهِ وَٱسْتَشْفَعْتُ بِكُمْ إِلَىٰ ٱللَّهِ فَٱشْفَعُوا لِي عِنْدَ ٱللَّهِ وَٱسْتَنْقِذُونِي مِنْ ذُنُوبِي عِنْدَ ٱللَّهِ فَإنَّكُمْ وَسيلَتِي إِلَىٰ ٱللَّهِ وَبِحُبِّكُمْ وَبِقُرْبِكُمْ ارْجُو نَجَاةً مِنَ ٱللَّهِ فَكُونُوا عِنْدَ ٱللَّهِ رَجَائِي يَا سَادَتِي يَا اوْلِيَاءَ ٱللَّهِ صَلَّىٰ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ اجْمَعينَ وَلَعَنَ ٱللَّهُ اعْدَاءَ ٱللَّهِ ظَالِمِيهِمْ مِنَ ٱلاوَّلِينَ وَٱلآخِرِينَ آمِينَ رَبَّ ٱلْعَالَمينَ


  Arti Dari Doa Tawassul ini Sebagai Berikut:


Doa itu Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan (perantara) Nabi-Mu, Nabi (pembawa) rahmat, Muhammad, shalawat atasnya dan keluarganya; 
Wahai Abul Qasim, wahai Rasulullah, wahai pemimpin (pembawa) rahmat, 
Wahai junjungan dan pemimpin kami, sesunguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

Wahai Abul Hasan, wahai Amirul Mukminin, wahai Ali bin Abi Thalib, 
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

Wahai Fathimah az-Zahra`, wahai putri Muhammad, wahai cahaya mata Rasul, 
Wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, memohon syfaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedapankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

Wahai Hasan bin Ali, wahai al-Mujtabâ, wahai putra Rasulullah, 
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

Wahai Abu Abdillah, wahai Husein bin Ali, wahai syahid, wahai putra Rasulullah, 
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

Wahai Abul Hasan, wahai Ali bin Husein, wahai Zainal Abidin, wahai putra Rasulullah, 
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

Wahai Abu Ja’far, wahai Muhammad bin Ali, wahai al-Bâqir, wahai putra Rasulullah, 
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

Wahai Abu Abdillah, wahai Ja’far bin Muhammad, wahai ash-Shâdiq, wahai putra Rasulullah, 
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

Wahai Abul Hasan, wahai Musa bin Ja’far, wahai al-Kâzhim, wahai putra Rasulullah, 
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

Wahai Abul Hasan, wahai Ali bin Musa, wahai ar-Ridhâ, wahai putra Rasulullah, 
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

Wahai Abu Ja’far, wahai Muhammad bin Ali, wahai at-Taqî al-Jawwâd, wahai putra Rasulullah, 
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

Wahai Abul Hasan, wahai Ali bin Muhammad, wahai al-Hâdî an-Naqî, wahai putra Rasulullah, 
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

Wahai Abu Muhammad, wahai Hasan bin Ali, wahai az-Zakî al-‘Askarî, wahai putraRasulullah,
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

Wahai Washî al-Hasan, wahai pengganti yang hujjah, wahai pemimpin yang dinanti (kedatangannya), al-Mahdi, wahai putra Rasulullah, 
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah; 

( Kemudian, mintalah hajat-hajat Anda. Semua hajat tersebut akan dikabulkan insyâ-Allah. Dalam sebuah hadis dianjurkan untuk membaca doa berikut setelah membaca doa Tawassul di atas. )

Wahai junjungan dan pemimpin-pemimpinku, sesungguhnya aku menghadap kepada Allah dengan (perantara) kalian para imamku dan bekalku di saat kepapaan dan keperluanku, 
dan aku bertawassul dengan kalian kepada Allah, dan memohon syafaat kepada Allah melalui perantara kalian. Maka, karuniakanlah syafaat kepadaku di sisi Allah dan selamatkanlah aku dari jeratan dosa-dosaku di sisi Allah, 

karena kalianlah perantaraku kepada Allah, dan hanya dengan kecintaan kepada kalian serta kedekatan kepada kalian aku memohon keselamatan kepada Allah. Oleh karena itu, jadilah kalian tumpuan harapanku di sisi Allah, wahai pemimpin-pemimpinku, wahai kekasih-kekasih Allah. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat atas mereka semua dan melaknat para musuh Allah, yaitu orang-orang yang menzalimi mereka dari yang pertama hingga yang terakhir. Amin, ya Rabbal ‘Âlamîn.

Selasa, 23 Juli 2019

4 Wanita yang Dijamin Akan Menghuni Surga, Siapa Mereka?

4 Wanita yang Dijamin Akan Menghuni Surga, Siapa Mereka?

Pada dasarnya, ada banyak wanita inspiratif yang kisahnya bisa kita jadikan pelajaran berharga dalam hidup. Dan wanita-wanita tersebut tak hanya ada di zaman modern atau saat ini saja. Ada banyak wanita di zaman Rasulullah atau sebelumnya yang kisahnya juga bisa kita jadikan sebagai pelajaran berharga dalam hidup. Berbicara mengenai wanita inspiratif, di dalam Islam sendiri disebutkan ada empat wanita yang sangat inspiratif. Wanita-wanita ini bahkan dikatakan sebagai wanita yang tak hanya inspiratif tetap juga dijamin masuk surga oleh Allah SWT.

Dikutip dari berbagai sumber, wanita yang dijamin akan menghuni surga adalah Ummul Mukminin. Mereka adalah ibu dari semua umat muslim di dunia. Mereka adalah Ummu Asiyah yang tak lain adalah istri Firaun, Ummu Siti Maryam yang tak lain adalah bunda Nabi Isa AS, Ummu Khadijah yang tak lain adalah istri Rasulullah SAW dan Ummu Fatimah Az Zahra yang tak lain adalah putri Rasulullah sekaligus istri dari sahabat rasul yakni Ali Bin Abi Thalib.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasul, "Pemuka wanita ahli surga ada empat. Ia adalah Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulallah SAW, Khadijah binti Khawailid dan Asiyah." (HR. Hakim dan Muslim)."
Hadist ini sendiri merupakan hadist shohih yang diakui kebenarannya. Lantas, apa keistimewaan keempat wanita ini sehingga mereka dikatakan sebagai wanita yang dijamin akan masuk surga? Berikut penjelasan singkatnya.

1. Maryam Binti Imran

Maryam binti Imran atau yang sering umat muslim kenal sebagai ibu dari Nabi Isa AS ini adalah sosok wanita yang begitu mulia. Ia adalah wanita yang selalu menjaga harga dirinya dan taat beribadah kepada Allah SWT.

Di mata Allah SWT, Maryam adalah wanita yang benar-benar suci dan mulia. Karena kemuliaan Maryam, Allah pun menganugerahkan seorang putra di kandungannya saat ia masih gadis. Secara logika, hamil tanpa adanya seorang suami atau ayah memang tidak masuk akal. Tapi, karena kekuasaan Allah maka apa yang tidak mungkin tentunya selalu bisa menjadi mungkin.

Saat hamil inilah, perjalanan hidup Maryam sangatlah tidak mudah. Banyak orang menggunjingnya. Meski begitu, ia tetap sabar dan tetap taat pada Allah SWT. Setelah kelahiran nabi Isa AS, Maryam mendidik nabi Isa dengan sangat baik dan penuh kesabaran. Maryam selalu mengajarkan kebaikan pada nabi Isa dan mengajaknya untuk selalu berdakwah di jalan Allah. Karena kemuliaan dan kesucian Maryam, Allah pun mencatatkan namanya di salah satu wanita yang dijamin akan menghuni surga jika waktu itu telah tiba.

2. Khadijah Binti Khawailid

Wanita kedua yang dijamin akan menghuni surga adalah Khadijah Binti Khawailid. Khadijah sendiri merupakan istri pertama Rasulullah SAW. Kjadijah pula lah ibu dari anak-anak Rasulullah. Kenapa ia dijamin masuk surga? Dalam beberapa surat di Al-Quran disebutkan bahwa Khadijah adalah wanita yang begitu mulia dan merelakan semua hartanya di jalan dakwah. Khadijah juga seorang wanita yang taat pada sang suami dan ia mau bersama-sama berjuang di jalan Allah bersama sang suami.

Atas apa yang ia lakukan ini, ia dikatakan sebagai wanita yang dijamin surga oleh Allah. Bahkan, malaikat Jibril pernah menyampaikan salamnya kepada Rasulullah untuk Khadijah dan mengatakan bahwa surga adalah tempat untuknya. "Ya Rasulullah, Khadijah sebentar lagi akan datang membawa bejana berisi lauk, makanan atau minuman. Kalau ia sudah datang, sampaikan salam dari Allah dan dariku untuknya. Berikan kabar gembira, bahwa rumahnya kelak adalah surga." (HR Bukhari dan Muslim).

3. Fatimah Az Zahra Binti Rasulullah SAW

Wanita selanjutnya yang juga dijamin masuk surga adalah Fatmah Az Zahra. Fatimah merupakan putri kesayangan Rasulullah Muhammad SAW. Ia adalah seorang anak yang patut dan taat pada orang tuanya. Ia juga merupakan istri dari Ali Bin Abi Thalib yang tak lain adalah sahabat Rasulullah.

Fatimah dikenal sebagai wanita muslim yang begitu sabar, penuh keimanan, cerdas dan taat pada suami. Fatimah juga merupakan seorang wanita yang begitu mulia dan mampu menjaga cintanya dengan sangat baik untuk suaminya saja. Saking mulia dan baiknya ia, kisah cinta Fatimah bersama suami menjadi kisah cinta yang begitu mengetuk hati dan menjadi kisah cinta paling romantis bagi umat muslim.

4. Asiyah Istri Firaun

Wanita keempat yang dijamin akan menghuni surga adalah Asiyah. Ia adalah istri dari Firaun dan juga ibu dari Nabi Musa AS. Meski sang suami dikenal sangat kejam dan mengaku dirinya sebagai tuhan, Asiyah tetap pada pendiriannya untuk menyembah hanya kepada Allah SWT. "Ya Allah, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun juga dari segala perbuatannya." (QS At-Thamrin, 11).

Saat Firaun mengancam akan menyiksa dan membunuhnya jika ia tidak mau menyembah Firaun, Asiyah tetap teguh pada pendiriannya untuk menyembah Allah. Asiyah tetap yakin bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang patut ia sembah dan tak ada yang lain selainNya. Keteguhan Asiyah inilah yang akhirnya membuatnya tercatat sebagai wanita mukmin yang dijamin akan ditempatkan di sisi terbaikNya yakni surga.

Itulah empat wanita atau Ummul Mukminin yang dikatakan dijamin surga oleh Allah SWT. Semoga, kisah ini bisa menjadi inspirasi buat kita semua agar menjadi wanita yang baik dan mulia agar suatu saat nanti kita bisa menjadi penghuni surga bersama mereka semua dan wanita-wanita mulia lainnya. Bagi yang hari ini menjalankan ibadah puasa, selamat menjalankan ibadah puasa dan tetap semangat menjalankan aktivitas hari ini.

والله اعلم.....

Istri Shalihah, Keutamaan dan Sifat-sifatnya


Apa yang sering diangankan oleh kebanyakan laki-laki tentang wanita yang bakal menjadi pendamping hidupnya? Cantik, kaya, punya kedudukan, karir bagus, dan baik pada suami.
Inilah keinginan yang banyak muncul.
Sebuah keinginan yang lebih tepat disebut angan-angan, karena jarang ada wanita yang memiliki sifat demikian.
Kebanyakan laki-laki lebih memerhatikan penampilan lahir, sementara unsur akhlak dari wanita tersebut kurang diperhatikan. Padahal akhlak dari pasangan hidupnya itulah yang akan banyak berpengaruh terhadap kebahagiaan rumah tangganya.

Seorang muslim yang saleh, ketika membangun mahligai rumah tangga maka yang menjadi dambaan dan cita-citanya adalah agar kehidupan rumah tangganya kelak berjalan dengan baik, dipenuhi mawaddah wa rahmah, sarat dengan kebahagiaan, adanya saling ta‘awun (tolong-menolong), saling memahami dan saling mengerti. Dia juga mendamba memiliki istri yang pandai memosisikan diri untuk menjadi naungan ketenangan bagi suami dan tempat beristirahat dari ruwetnya kehidupan di luar. Ia berharap dari rumah tangga itu kelak akan lahir anak turunannya yang saleh yang menjadi qurratu a‘yun (penyejuk mata) baginya.

Demikian harapan demi harapan dirajutnya sambil meminta kepada Ar-Rabbul A‘la (Allah Yang Mahatinggi) agar dimudahkan segala urusannya.

Namun apa yang menjadi dambaan seorang muslim ini tidak akan terwujud dengan baik kecuali bila wanita yang dipilihnya untuk menemani hidupnya adalah wanita salihah. Hanya wanita salihah yang dapat menjadi teman hidup yang sebenarnya dalam suka maupun lara, yang akan membantu dan mendorong suaminya untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hanya dalam diri wanita salihah tertanam akidah tauhid, akhlak yang mulia dan budi pekerti yang luhur. Dia akan berupaya ta‘awun dengan suaminya untuk menjadikan rumah tangganya bangunan yang kuat lagi kokoh guna menyiapkan generasi Islam yang diridhai ar-Rahman.

Sebaliknya, bila yang dipilih sebagai pendamping hidup adalah wanita yang  tidak terdidik dalam agama[1] dan tidak berpegang dengan agama, maka dia akan menjadi duri dalam daging dan musuh dalam selimut bagi sang suami. Akibatnya rumah tangga selalu sarat dengan keruwetan, keributan, dan perselisihan. Istri seperti inilah yang sering dikeluhkan oleh para suami, sampai-sampai ada di antara mereka yang berkata, “Aku telah berbuat baikkepadanya dan memenuhi semua haknya namun ia selalu menyakitiku.”

Duhai kiranya wanita itu tahu betapa besar hak suaminya, duhai kiranya dia tahu akibat yang akan diperoleh dengan menyakiti dan melukai hati suaminya….! Namun dari mana pengetahuan dan kesadaran itu akan didapatkan bila dia jauh dari pengajaran dan bimbingan agamanya yang haq? Wallahu al-Musta‘an.

 

Keutamaan Wanita Salihah

Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhumameriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا ا رْملَْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan[2] dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salihah.” (HR. Muslim no. 1467)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda kepada Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu,

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرٍ مَا يَكْنِزُ ا رْملَْءُ، ا رْملَْأَةُ الصَّالِحَةُإِذَا نَظرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِذَا غَابَعَنْهَا حَفِظَتْهُ

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri salihah yang bila dipandang akan menyenangkannya[3], bila diperintah[4] akan menaatinya[5], dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam al-Jami’ush Shahih 3/57, “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahberkata,“Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada para sahabatnya bahwa tidak berdosa mereka mengumpulkan harta selama mereka menunaikan zakatnya, beliau memandang perlunya memberi kabar gembira kepada mereka dengan menganjurkan mereka kepada apa yang lebih baik dan lebih kekal yaitu istri yang salihah yang cantik (lahir batinnya) karena ia akan selalu bersamamu menemanimu.

Bila engkau pandang menyenangkanmu, ia tunaikan kebutuhanmu bila engkau membutuhkannya. Engkau dapat bermusyawarah dengannya dalam perkara yang dapat membantumu dan ia akan menjaga rahasiamu. Engkau dapat meminta bantuannya dalam keperluan-keperluanmu, ia menaati perintahmu dan bila engkau meninggalkannya ia akan menjaga hartamu dan memelihara/ mengasuh anak-anakmu.” (‘Aunul Ma‘bud, 5/57)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallampernah pula bersabda,

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: ا رْملَْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَ المَسْكَنُالْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَ الَمرْكَبُ الْهَنِي؛ وَأَرْبَعٌ مِنَالشَّقَاءِ: الْجَارُ السّوءُ، وَا رْملَْأَةُ السُّوءُ، وَا رْملَكَبُالسُّوءُ، وَ المَسْكَنُ الضَّيِّقُ

“Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang salihah, tempat tinggal yang luas/lapang, tetangga yang saleh, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak salihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban dalam al-Mawarid hlm. 302, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam al-Jami’ush Shahih, 3/57 dan asy-Syaikh Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 282)

Ketika Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, harta apakah yangsebaiknya kita miliki?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَاناً ذَاكِرًا وَزَوْجَةًمُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ

“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah no. 1505)

Cukuplah kemuliaan dan keutamaan bagi wanita salihah dengan anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambagi lelaki yang ingin menikah untuk mengutamakannya dari yang selainnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

تُنْكَحُ ا رْملَْأَةُ رِألَْبَعٍ: اِملَلِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَاوَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmuwanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Empat hal tersebut merupakan faktor penyebab dipersuntingnya seorang wanita dan ini merupakan pengabaran berdasarkan kenyataan yang biasa terjadi di tengah manusia, bukan suatu perintah untuk mengumpulkan perkara-perkara tersebut, demikian kata al-Imam al-Qurthubi rahimahullah. Namun dzahir hadits ini menunjukkan boleh menikahi wanita karena salah satu dari empat perkara tersebut, akan tetapi memilih wanita karena agamanya lebih utama. (Fathul Bari, 9/164)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahberkata

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ

maknanya: yang sepatutnya bagi seorang yang beragama dan memiliki muruah (adab) untuk menjadikan agama sebagai petunjuk pandangannya dalam segala sesuatu terlebih lagi dalam suatu perkara yang akan tinggal lama bersamanya (istri). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan untuk mendapatkan seorang wanita yang memiliki agama di mana hal ini merupakan puncak keinginannya.” (Fathul Bari, 9/164)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullahberkata, “Dalam hadits ini ada anjuran untuk berteman/bersahabat dengan orang yang memiliki agama dalam segala sesuatu karena ia akan mengambil manfaat dari akhlak mereka (teman yang baik tersebut), berkah mereka, baiknya jalan mereka, dan aman dari mendapatkan kerusakan mereka.” (Syarah Shahih Muslim, 10/52)

 

Sifat-Sifat Istri Salihah

Allah shallallahu ‘alaihi wa sallamberfirman,

فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ

“Wanita (istri) salihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (an-Nisa: 34)

Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan di antara sifat wanita salihah adalah taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kepada suaminya dalam hal yang ma‘ruf[6] lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak berada di sampingnya.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di rahimahullah berkata, “Tugas seorang istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Wanitasalihah adalah yang taat,’ yakni taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ‘Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.’ Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian, pen.), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 177)

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi permasalahan dengan istri-istrinya sampai beliau bersumpah tidak akan mencampuri mereka selama sebulan, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan kepada Rasul-Nya:

عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبۡدِلَهُۥٓ أَزۡوَٰجًا خَيۡرٗا مِّنكُنَّ مُسۡلِمَٰتٖ مُّؤۡمِنَٰتٖ قَٰنِتَٰتٖ تَٰٓئِبَٰتٍ عَٰبِدَٰتٖ سَٰٓئِحَٰتٖ ثَيِّبَٰتٖ وَأَبۡكَارٗا ٥

“Jika sampai Nabi menceraikan kalian[7], mudah-mudahan Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, muslimat,mukminat, qanitat, taibat, ‘abidat,saihat dari kalangan janda ataupun gadis.” (at-Tahrim: 5)

Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan beberapa sifat istri yang salihah yaitu:

Muslimat: wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah subhanahu wa ta’ala), tunduk kepada perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan perintah Rasul-Nya.


Mukminat: wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala.


radhiallahu ‘anhuma. Qanitat: wanita-wanita yang taat.

Taibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu mereka.


‘Abidat: wanita-wanita yang banyak melakukan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala (dengan mentauhidkannya karena semua yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an adalah tauhid, kata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma).


Saihat: wanita-wanita yang berpuasa. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 18/126—127, Tafsir Ibnu Katsir, 8/132)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenyatakan,

إِذَا صَلَّتِ المَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْفَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْأَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai’.” (HR. Ahmad 1/191, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)

Dari dalil-dalil yang telah disebutkan di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa sifat istri yang salihah adalah sebagai berikut:

Mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan mempersembahkan ibadah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.


Tunduk kepada perintah Allah subhanahu wa ta’ala, terus-menerus dalam ketaatan kepada- Nya dengan banyak melakukan ibadah seperti shalat, puasa, bersedekah, dan selainnya. Membenarkan segala perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala.


Menjauhi segala perkara yang dilarang dan menjauhi sifat-sifat yang rendah.


Selalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bertaubat kepada-Nya sehingga lisannya senantiasa dipenuhi istighfar dan zikir kepada-Nya. Sebaliknya ia jauh dari perkataan yang laghwi, tidak bermanfaat dan membawa dosa seperti dusta, ghibah, namimah, dan lainnya.


Menaati suami dalam perkara kebaikan bukan dalam bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’aladan melaksanakan hak-hak suami sebaik-baiknya.


Menjaga dirinya ketika suami tidak berada di sisinya. Ia menjaga kehormatannya dari tangan yang hendak menyentuh, dari mata yang hendak melihat, atau dari telinga yang hendak mendengar. Demikian juga menjaga anak-anak, rumah, dan harta suaminya.


Sifat istri salihah lainnya bisa kita rinci berikut ini berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan setelahnya:

Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُالْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّىتَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًاحَتَّى تَرْضَى

“Maukah aku beri tahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata, “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, asy- Syaikh Albani rahimahullah, no. 287)

Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.


Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma’ bintu Yazid radhiallahu ‘anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Barangkali ada seorang suami yang menceritakanapa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?”


Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab, “Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami).”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةًفِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ

“Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti setan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya.” (HR. Ahmad 6/456, Asy-Syaikh Albani rahimahullah dalam Adabuz Zafaf (hlm. 63) menyatakan adasyawahid (pendukung) yang menjadikan hadits ini sahih atau paling sedikit hasan)

Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,


أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرٍ مَا يَكْنِزُ ا رْملَْءُ، ا رْملَْأَةُ الصَّالِحَةُإِذَا نَظرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِذَا غَابَعَنْهَا حَفِظَتْهُ

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri salihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam al-Jami’ush Shahih 3/57, “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)

Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta‘ (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak halal seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya.” (HR. al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)

Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Diperlihatkan nerakakepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. ”


Ada yang bertanya kepada beliau,“Apakah mereka kufur kepada Allah subhanahu wa ta’ala?”

Beliau menjawab, “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorangdi antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali’.” (HR. al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamjuga pernah bersabda,

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَتَسْتَغْنِي عَنْهُ

“Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.” (HR. an-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 289)

Bersegera memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya tanpa alasan yang syar‘i, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan takut terhadap berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:


وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَىفِرَاشِهِ فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًاعَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan Yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (HR. Muslimno. 1436)

إِذَا بَاتَتِ ا رْملَْأَةُ مُهَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْملَاَئِكَةُ حَتَّى تَرْجِعَ

“Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).” (HR. al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 1436)

Demikian yang dapat kami sebutkan dari keutamaan dan sifat-sifat istri salihah, mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberi taufik kepada kita agar dapat menjadi wanita yang salihah, amin.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad  Aulia Hafidz Al-Majied, Lc.

[1] Atau ia belajar agama namun tidak mengamalkannya.

[2] Tempat untuk bersenang-senang (Syarah Sunan an-Nasai oleh al-Imam as Sindi rahimahullah, 6/69)

[3] Karena keindahan dan kecantikannya secara lahir, karena bagusnya akhlaknya secara batin, atau karena dia senantiasa menyibukkan dirinya untuk taat dan bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala (Ta’liq Sunan Ibnu Majah, Muhammad Fuad Abdul Baqi, Kitabun Nikah, bab “Afdhalun Nisa”, 1/596, ‘Aunul Ma’bud, 5/56)

                [4] Dengan perkara syar‘i atau perkara biasa (‘Aunul Ma’bud, 5/56)

[5] Mengerjakan apa yang diperintahkan dan melayaninya (‘Aunul Ma’bud, 5/56)

[6]  Bukan dalam bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq.

[7] Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui bahwasanya Nabi-Nya tidak akan menceraikan istri-istrinya (ummahatul mukminin), akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan kepada ummahatul mukminin tentang kekuasaan-Nya, bila sampai Nabi menceraikan mereka, Dia akan menggantikan untuk beliau istri-istri yang lebih baik daripada mereka dalam rangka menakuti-nakuti mereka. Ini merupakan pengabaran tentang qudrah Allah subhanahu wa ta’ala dan ancaman untuk menakut-nakuti istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan berarti ada orang yang lebih baik daripada sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 18/126) dan bukan berarti istri-istri beliau tidak baik bahkan mereka adalah sebaik-baik wanita. Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Permasalahan ini dibawa kepada pendapat yang mengatakan bahwa penggantian istri dalam ayat ini merupakan janji dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk Nabi-Nya, seandainya beliau menceraikan mereka di dunia Allah subhanahu wa ta’ala akan menikahkan beliau di akhirat dengan wanita-wanita yang lebih baik daripada mereka.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 18/127)

.....Wallohu A'lam